Selasa, 18 April 2017

Ayam Hutan Hijau Yang Mulai Berkurang Populasinya

Ayam sebagai hewan peliharaan sudah sangat melekat sekali di pribadi masyarakat nusantara. Selain dijadikan ayam aduan, beberapa jenis ayam ada juga yang dinikmati dengan warnanya yang indah dan juga suara kokoknya yang menawan. Salah satu jenis ayam yang sangat populer adalah ayam hutan hijau. Kepopuleran ayam hutan hijau meningkat akhir-akhir ini. Sebab dia banyak digunakan sebagai pejantan untuk menghasilkan ayam bekisar. Selain itu orang juga tertarik untuk memelihara karena sosoknya, terutama warna bulunya.
Bila diamati sosok yang jantan, maka dari jengger sampai ke ekor ayam hutan penuh dengan warna-warna yang beragam dan indah. Jenggernya yang tidak bergerigi berwarna unik, campuran ungu, merah, dan biru muda. Warna bulunya sendiri dominan hijau terang dengan bintik-bintik kuning di bagian sayapnya. Bila terkena cahaya, timbul warna-warni seperti pelangi. 
Sayang, sosok si betina tidak semenarik yang jantan. Warna bulunya biasa saja, cokelat dengan bintik-bintik kuning pada bagian kepala sampai leher. Walau demikian, ayam hutan betina ini juga dibutuhkan untuk kelanjutan generasinya. Siswanto yang merupakan salah satu peternak ayam yang sudah masuk kategori apendix 2 atau dilindungi tetapi masih boleh dipelihara ini mengatakan bahwa memang dalam menangkarkan ayam hutan jenis ini susah-suah gampang karena sifat liar dan juga psikisnya yang menyebabkan ayam jenis ini bisa saja mati mendadak atau sudden death.
Dok.Chandra Ekajaya

Suara ayam ini juga mempesona. Frekuensi suaranya rapat dan beramplitudo tinggi. Karena suara uniknya ini pula ayam hutan hijau jantan banyak dicari untuk dikawinkan dengan ayam kampung betina, agar diperoleh ayam bekisar yang bersuara bagus. Siswanto memberi ayam ayam-ayam hutannya beras merah, jagung, kacang-kacangan, dan hijauan seperti rumput, kangkung, daun jambu, atau daun pepaya. Sebagai selingan bisa juga diberi udang, cacing, atau jangkrik.
Yang paling penting, harus diusahakan agar ayam tidak stress. Caranya dengan mengusahakan lingkungan yang tenang dan tidak banyak orang lalu-lalang. “Bahkan warna baju perawat kandang yang berbeda dengan yang biasa dipakai sehari-hari juga dapat membuat ayam ini menjadi stress. Kalau sudah mulai stress ayam ini bisa mati dalam waktu singkat,” tutur Siswanto.
Chandra Ekajaya yang merupakan pengusaha bidang agribisnis sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Siswanto ini. Karena keberadaan ayam jenis ini sudah sedikit jarang di habitat aslinya. Ia sendiri juga mulai menangkarkan ayam jenis ini dengan bimbingan Siswanto yang sudah sangat ahli dalam merawat unggas indah satu ini.
Dalam penangkarannya sendiri memang Chandra Ekajaya dan Siswanto juga menjual beberapa anakan Ayam Hutan Hijau ini. akan tetapi dalam menjual ayam jenis ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya ialah menjinakkan anakan jenis ini sejak kecil agar tidak mudah stress ketika dipelihara orang lain yang juga ingin menikmati keindahan serta kokokan ayam jenis ini. 

Bagikan

Jangan lewatkan

Ayam Hutan Hijau Yang Mulai Berkurang Populasinya
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.