Senin, 28 November 2016

Yohanes Chandra, Raih Omzet Lewat Bakau Busuk

Yohanes Chandra, Raih Omzet Lewat Bakau Busuk

Sudah enam tahun, Yohanes Chandra Eka merintis sebuah usaha fashion khas nusantara yaitu batik. Namun, berbeda dari produk batik biasanya yang menggunakan malam sebagai pewarna dalam kain tersebut. Kali ini, batik karya Yohanes Chandra Eka menggunakan pewarna alami yang berasal dari bakau busuk. Dengan melakukan riset hampir dua tahun, Yohanes Chandra Eka berhasil menciptakan sebuah produk andalan yang diberi label bernama Raja Laut.
Memilih nama tersebut, Yohanes Chandra Ekajaya memang membranding Raja Laut sesuai dengan motif yang berada dalam selembar kain tersebut menggambarkan simbol-simbol flora dan fauna yang hidup di laut.  Awalnya, ia tak menyangka bahwa akan menjadi seorang wirausahawan. Selain itu, menggunakan bahan baku bakau sebagai pewarna dilatarbelakangi dari hilangnya ekosistem bakau busuk yang mengalami kerusakan di masyarakat pesisir hingga akhirnya ia terbersit impian untuk dapat mengolah potensi alam agar mengalami kenaikan secara ekonomi di tingkat masyarakat pesisir.

Yohanes Chandra Ekajayadikenal sebagai sosok pebisnis sukses yang kini telah mendulang untung lewat Raja Laut. Selembar batik tersebut dihargai dengan tarif Rp 500 ribu hingga Rp 3,5 juta rupiah. Ke depannya, ia terus menciptakan kualitas produk secara maksimal agar para pelanggan dapat menikmati produk dari Batik Raja Laut. Meski belum memiliki toko offline, kini Yohanes Chandra Ekajaya terus melakukan promosi di beberapa media sosial dan melakukan kerjasama kepada para mitra bisnisnya.  

Bagikan

Jangan lewatkan

Yohanes Chandra, Raih Omzet Lewat Bakau Busuk
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.